What’s On My Mind (2) Juni 7, 2010
Posted by h4f1zd in Tulisan ringan.add a comment
01.38 am :
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Wah akhirnya ada niatan saya nulis juga, dengan menggunakan waktu istirahat sejenak dari dunia perkodingan (koding atau ngaskus y??)
ditemani TV dan Muhammad Arifin Ilham (kebetulan bgt pas saya lagi nulis pas ada acara renungan malam)..
Ok Let’s begin to write..
Hal2 yang dilakukan sesuai judul diatas pas jam segini adalah merenung, introspeksi diri dan menulis tentu saja, hari ini (atau lebih tepatnya hari kemarin karena ini sudah masuk jam untuk hari ini) saya udah ngapain az?? dimulai dari pagi hari kerjaan perkodingan yang biasa saya kerjakan, kemudian partner mulai sms menanyakan progress project yang sedang kita kerjakan sampe saya kepikiran untuk mkn enak (ato boleh dibilang mahal untuk ukuran saya yang biasa nya makan di warung nasi ato pesen nasgor buat mkn stgh mlm (kenapa di sebut stgh mlm karena saya makan habis maghrib))
Singkat cerita selesai mkn setengah mlm ternyata mulai rasa kantuk mendera mata, jadilah saya mengistirahatkan bdn dan pikiran saya beberapa jam hingga saya terbangun sekitar jam 10 mlm untuk memulai siklus perkodingan (gayanya perkodingan padahal kodingnya cupu) dan embel2 di blkgny (kaskus, fb, detik dsb) hingga akhirnya sampai waktu where I’m writin’ this. Sekedar flashback beberapa minggu ini siklus tidur saya memang aga beda dari org pd umumnya (biasanya org jam segini tidur saya bangun, pun sebaliknya). mklum lah sedang ada rezeki yang harus dikejar, lumayan buat nambah2 tabungan dan shodaqah
Talking about shodaqah jadi teringat kata2 babeh saya, beliau mengatakan “Bekerja lah secara giat dan raih sebanyaknya materi yang bisa kamu dapatkan karena materi (dalam hal ini harta atau rezeki) itu yang bisa membantu kamu kepada di dunia dan akhirat”, saya berpikir dalam hati mana ada materi membantu pada kehidupan di akhirat kalau dunia si emg iya tapi akhirat (tanda tanya besar nih dan harus dapat penjelasan dari babeh), maka saya bertanya “bagaimana materi bisa membantu kita di akhirat bukankah materi ga dibawa mati beh?”, tanyaku waktu itu. Beliau kemudian menjawab “memang materi tidak dibawa mati tapi jika kita punya materi berarti kita juga berkewajiban menyisihkan sebagian materi yang kita punya kan? nah materi yang kita sisihkan itu yang bisa membantu kita di akhirat, karena semakin bnyak materi yang kita dapatkan maka harus semakin bnyak pula materi yang kita sisihkan dari situ, bener kn?”. “Mmm..make sense juga pikirku”, karena sebenarnya yang ada dipikiran saya selama ini knp harus cari bnyak2 materi toh ga dibawa mati ini, hingga sharing ttg materi dengan babeh mengubah pola pikir saya yang dulu. singkat memang sharing ttg kehidupan antara saya dan babeh tapi bermakna menurut saya. (ini cerita panjang lebar trus merenung dan introspeksi dirinya di bagian mana y?)
Sobat2 sekalian sebenarnya pada saat saya menulis ini lah saya merenung dan introspeksi diri tentang hal diatas dan apakah saya sudah berbuat baik hari kemarin, minimalnya membuat org tersenyum, mdh2an itu sudah saya lakukan hari kemarin sehingga hidup ini memberikan manfaat kepada org lain.
Hoaammm..lama kelamaan ko saya ngantuk y, mungkin salah satu obat mujarab biar ngantuk adalah menulis kali y..baiklah sobat mungkin ga bnyak yang bisa diceritakan pada What’s On My Mind kali ini karena saya bnr2 ngantuk (tunuh saur urg sunda mh), mungkin di What’s On My Mind berikutnya saya bisa sharing banyak dengan sobat2 sekalian.
Selamat mlm sobat2 ku semoga kalian senantiasa dalam lindungan-Nya. selamat bermimpi indah dan bagi yang mau shalat malam selamat menunaikan ibadah shalat malam. doakan saudara2 kita di Palestina agar mereka diberi kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi zionis Israel yang la’natullah..Amin…
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
What’s on my mind (1)? Mei 13, 2010
Posted by h4f1zd in Tulisan ringan.add a comment
Hadoh…dah lama sekali ga nge – blog, terakhir shaum ramadhan taun lalu saya nge – blog..It means udah ampir setaun saya ga nge – blog
dan so many life story yang saya alami pada range setaun itu..Suka dan duka kehidupan mulai saya rasakan.. Mulai dari pindah perusahaan (kalo anda baca tulisan2 saya sebelumnya anda akan tahu shaum ramadhan lalu saya ada dimana) sampe adanya suatu hal yang membuat seseorang kecewa, marah dan mungkin berharap dia tidak pernah bertemu dengan saya (I’m really sorry, I never mean that but I think that’s the best way for us). Tapi itu adalah masa yg sudah lewat, suatu masa dimana saya tidak bisa kembali lagi ke sana dan hanya bisa bercermin untuk dijadikan bahan introspeksi diri dan pelajaran agar hidup semakin berguna bagi semua org. Actually lagi gada inspirasi buat nulis apa yg ada dipikiran saya sekarang, cause banyak sekali yg ingin saya tuangkan dalam tulisan, tapi saya harus memilih satu hal dari banyak hal yg ada di kepala ini agar tulisan ini ngga ngalor ngidul tanpa ada arah yg jelas. Well, mungkin sampe sini dulu tulisan pembuka saya utk blogging lagi..maklum blum ada inspirasi
..next Insya Allah kalo ada inspirasi saya pengen sharing ma temn2…
Motivasi September 3, 2009
Posted by h4f1zd in Tulisan ringan.add a comment
Apa si sebenarnya motivasi itu? berbentuk seperti apa si motivasi itu? bagaimana cara memotivasi diri yang baik? itu hanya 3 pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan tentang motivasi yang ada di benak saya… Banyak saya mencari kata-kata yang bagus untuk memotivasi diri saya sendiri, kadang – kadang kata – kata itu bisa memotivasi saya tapi hanya beberapa waktu setelah itu hilang kembali.. Saya bertanya kepada diri saya sendiri ko bisa ya kata-kata motivasi itu datang hanya sebentar? oh mungkin saya kurang “mengikat” kata-kata motivasi itu dalam pikiran saya.. Makanya saya membuat catatan di kamar dengan kertas..Saya tulis kata- kata motivasi yang saya dapatkan di langit – langit kamar agar sebelum saya tidur saya bisa membaca kata – kata motivasi tersebut.. Lama klamaan kata – kata itu hinggap juga dalam benakku..Dengan berbekal motivasi aku menjalani hidup ini.. Saya ini terus terang adalah orang yang haus akan motivasi, karena dengan motivasi saya dapat melakukan apa yang saya ingin lakukan dengan sungguh – sungguh dan harus mencapai apa yang saya inginkan, akan tetapi jika motivasi itu hilang, saya kembali hanya melakukan apa yang ingin saya lakukan dengan biasa – biasa saja..Ya anda merasakan sendiri lah klo bekerja atau hidup tanpa motivasi seperti apa..
Sabar? Bisakah kita melakukannya??? Oktober 30, 2008
Posted by h4f1zd in Introspeksi.add a comment
Bersabar…itu yang selalu dikatakan orang – orang termasuk saya apabila ada teman, saudara, atau siapapun yang bercerita pada kita bahwa mereka mendapatkan musibah, kekecewaan, kekesalan dan semua kejadian tidak mengenakkan yang terjadi pada diri kita sebagai manusia….Tetapi apakah kita menyadari jika kita yang menjadi org yg mendapatkan musibah, kekecewaan, ato kekesalan dsb itu bisa langsung bilang sabar kepada diri kita sendiri..Some people says yes but many people says no….
Dengan mengambil kata – kata terakhir tadi, untuk sebagian orang yang berkata “yes” maka berbahagialah dan berterimakasih lah pada Allah SWT karena mereka diberikan kesabaran yang begitu luar biasa sehingga bisa langsung menanamkan rasa sabar itu pada diri mereka sendiri, tapi bagaimana dengan kebanyakan orang yang berkata “no”? Tenanglah…Orang2 seperti itu termasuk saya harus belajar lagi mendalami dengan apa yang dinamakan dengan sabar…Sifat manusia apabila kita tidak bisa bersabar atas kejadian yang menurut kita tidak mengenakkan, apapun itu..Karena manusia diberi hawa nafsu oleh Illahi Robbi…Saat saya menulis ini pun saya mengalami apa yang disebut oleh orang yaitu rasa kekecewaan…Dan…Saya pun akhirnya diskusikan dgn tman saya bahwa saya sedang mengalami kekecewaan..Kemudian dia bilang bersabarlah…mmm..menurut saya tidak ada yang salah dengan nasihat itu malah mungkin benar sekali…tapi alangkah nikmat orang yang tidak mengalami musibah, kekecewaan dsb itu bilang sabar…lalu terbersit di pikiran saya, apakah dia bisa berkata itu pada dirinya sendiri jika dia juga mengalami apa yang seperti saya alami?
Saya pun pernah bilang sabar pada teman saya pada saat dia mengalami kekecewaan, sungguh nikmat rasanya bisa menasihati orang dengan berkata sabar, sedangkan kita tidak mengalami apa yang mereka rasakan…sebenarnya apa permasalahan saya sehingga saya segitu kecewanya dan kemudian berpikir untuk menulis tentang ini..Biar saya jelaskan pada anda yang sudah bekerja…Tujuan bekerja untuk apa?pasti semua orang jawabannya untuk mencari uang..walau ada beberapa orang yang bilang untuk mencari pengalaman..trus apa mau kita bekerja untuk mencari pengalaman tapi tidak dibayar?…ooooo…I don’t think so..Sekarang saya tanya bagaimana rasanya jika kita sudah bekerja dan ternyata pada hari dimana uang yang akan kita terima sebagai bagian dari perjanjian (gaji -red) tidak dibayar?
tentunya kita kecewa kan? ya seperti itulah yang saya rasakan pada hari saya menulis ini…
Gila…itu yang ada di benak saya…ko bisa telat gajian saya? padahal saya telah bekerja sesuai dengan rule yang diberikan pada saya..pastinya kapan saya gajian pun saya ga tau..karena saya tanya pada senior2 mereka jawabnya juga ga tau…mereka bilang mereka udah trbiasa telat gajian..hehe
bagi saya ini pengalaman pertama saya gajian telat..karena saya memang orang baru di perusahaan ini…ya sudahlah mungkin belum rezeki saya gajian hari ini…mungkin Allah SWT punya rencana dibalik kejadian saya ini..itu yang akhirnya saya lakukan…pasrah pada illahi Rabbi…lillahi taa’la…Karena hanya Dia Dzat yang mengatur semua rezeki kita…mudah2an saya bisa lebih bersabar…amin..
Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 2:153)
Malukah Kita, Jika Ternyata Mereka Bisa? Oktober 30, 2008
Posted by h4f1zd in Introspeksi.add a comment
Adzan dzuhur memang masih sekitar lima belas menit lagi menjelang. Sebuah masjid di salah satu kawasan sarat penduduk di pusat ibu kota itu kini perlahan mulai diisi satu persatu jamaah yang tinggal di sekitarnya.
Dari kejauhan seorang bapak tua nampak berjalan dengan langkah tergopoh mendorong sebuah gerobak tua menuju pekarangan masjid. Puluhan bekas minuman gelas mengisi hampir seperempat bak gerobak tersebut. Sesaat kemudian ia memarkir gerobak tuanya di salah satu sudut pekarangan masjid.
Aku masih memperhatikannya ketika ia mengambil sebuah bungkusan dalam kantong hitam yang ia gantung di bagian belakang gerobak tersebut. Kemudian ia membawanya ke arah kamar mandi masjid dan hilang dalam pandangku.
Matahari di hampir penghujung bulan oktober ini alhamdulillah sudah agak semakin akrab denganku di ibu kota ini. Laporan cuaca memang menyebutkan bahwa akhir-akhir ini cuaca kota Jakarta sedang agak bersahabat dengan para penduduknya. Tidak begitu panas seperti biasanya.
Adzan dzuhur kini berkumandang, menggema mengisi relung-relung penjuru dunia. Bapak tua tadi kini terlihat kembali, meskipun terus terang telah membuatku sedikit terperangah kaget dengan penampilannya. Tak ada lagi baju kumal yang ia kenakan beberapa saat yang lalu ketika aku melihatnya. Kini, sebuah baju koko berwarna putih, meskipun sudah agak lusuh, melekat di tubuh tua-nya, lengkap dengan sebuah kain sarung bercorak kotak-kotak berwarna biru.
Hingga sesaat kemudian semua itu berlalu ketika kami memenuhi panggilan suci untuk bersama mengagungkan asma-Nya dan takbir dan shalat kami.
Usai shalat sunnat ba’da Dzuhur, aku kembali memperhatikan bapak tua itu yang kini duduk bersila disudut sana. Ia masih terlihat khusyuk dengan kedua tangannya yang kini menengadah di depan dadanya.
Dalam hati terus terang sungguh aku merasa malu saat itu. Ketika semakin lama semakin aku perhatikan ia. Ia yang dengan kondisi seperti itu ternyata masih bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapkan jiwanya serta mempersembahkan shalat terbaiknya ketika panggilan shalat mulai berkumandang.
“Namun bagaimana dengan kita?”
Aku menundukkan kepalaku ketika teringat semuanya.
Terkadang, bukankah kita yang ternyata padahal lebih banyak kesempatan untuk bisa mempersiapkan diri dan mempersembahkan ibadah terbaik kepada-Nya justru malah seringkali melalaikannya?
Berbagai alasan seringkali kita pergunakan sebagai sanggahan-sanggahan atas tanya hati kecil kita, ketika is bertanya mengapa. Pekerjaan yang tanggung ataukah tidak enak menolak ajakan rekan kerja untuk makan siang bareng, telah menjadi salah satu dari sekian banyak alasan yang ada daripada kita menggunakan waktu untuk bisa melaksanakan sholat kita tepat di awal waktu.
Sungguh, aku rasa ketika Alloh pertemukanku dengan bapak tua tadi telah menjadi sebuah pukulan telak yang tidak hanya membuatku malu, namun semoga juga menjadikanku semakin tersadar atas semua hikmah daripadanya.
Aku memandangi sebuah tulisan arab di dinding masjid sana yang tertulis rapi, dikutip dari penghujung di ayat ke 103 surrat An Nisaa,
“… Innasholaata kaanat ‘alal mu’miniina kitaaban maukuutaa”
“… Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
Namun, ternyata meskipun tulisan itu terpampang jelas disana, masih saja kita terkadang lupa dibuatnya. Bahkan yang membuat diri ini sedih, ketika dengan yakinnya sebagian orang dari saudara kita menyanggah bahwa shalat tepat waktu itu tidak berarti melaksanakannya di awal waktu.
Padahal, aku kira seandainya alasan-alasan mereka akan semua hal itu, masihkah berlaku ketika kita mencoba menanyakan pada hati kecil kita, “Masihkah kita bisa menjamin akan usia bisa sampai pada saat dimana kita mengakhirkan waktu shalat tersebut?”
Jika memang ternyata bapak tua tadi dengan segala aktifitasnya ternyata masih mampu untuk mempersiapkannya lebih baik dalam beribadah kepada-Nya, masihkah ada rasa malu ketika kita mengingatinya atas diri kita sendiri?
Wallahu’alam bish-shawab.
eramuslim.com
Teruslah Membaca Sayang… Oktober 21, 2008
Posted by h4f1zd in Introspeksi.add a comment
Jika ada yang bertanya, apa harta kami yang paling banyak dan berharga, bisa jadi jawabannya adalah buku. Di rumah kami yang tidak begitu besar, buku berserakan dan menumpuk di mana-mana. Dan dengan sendirinya, Faiz, putera kami satu-satunya, sejak bayi sudah akrab dengan buku. Di usianya yang baru menginjak sembilan tahun, dia telah memiliki perpustakaannya sendiri, walau buku-bukunya masih campur-baur antara komik dengan yang pengetahuan umum. Malam tadi, sehabis isya, saya biasa menulis di depan komputer. Faiz dan Uminya mengerjakan PR di ruang tengah dan tamu yang disulap jadi ruang keluarga. Sambil menulis, saya mendengar alunan indah senandung “Amazing Grace” Nana Mouskouri dan “Only Time” Enya. Tiba-tiba Faiz bertanya padaku, ‘Oh Lame Saint’itu Monalisa ya?”Saya tidak kaget dengan pertanyaannya itu. Ketika liburan kemarin, Faiz memang menggunakan beberapa harinya untuk bermain The Da Vinci Code, sebuah game konsul PS2 yang dibuat berdasarkan novel serupa yang sangat fenomenal. Sebelum bermain PS2, Faiz saya ajak menonton filmnya dan juga membuka-buka lembar demi lembar novel Dan Brown tersebut secara cepat untuk memperlihatkan anagram dan kode-kode rahasianya. Dan yang sungguh mengejutkan, anak sembilan tahun itu sudah sanggup memecahkan beberapa kodenya, padahal saya sendiri kadang suka lupa. Malam itu Faiz rupanya tengah menulis diary-nya dalam bahasa Inggris. Tentu, masih belepotan di sana-sini. Uminya sudah terlelap di sampingnya. Dalam diary tersebut Faiz bercerita bahwa dia suka sekali memecahkan kode dan memainkan game tersebut. Dia juga bertanya tentang Museum Louvre, Sophie, Robert Langdon, Sauniere, dan lainnya. Bi, Faiz mau ke Louvre dong….” katanya lagi. Saya tersenyum dan menasehatinya untuk terus membaca agar menjadi pintar dan kalau sudah pintar pasti bisa mewujudkan keinginannya itu. Kami memang memiliki koleksi film dokumenter dan literatur yang cukup lengkap tentang Paris, Louvre, Da Vinci Code, Templar, Sion, dan juga Rennes Le Chateau, baik yang berbahasa Indonesia, Inggris, maupun Perancis. Dan Faiz sedikit banyak sudah pernah (ikut-ikutan) menontonnya. Dia banyak bertanya tentang hal itu. Malam itu, saya menyodorkan novel Da Vinci Code kepada Faiz. “Baca ini kalau mau tahu ceritanya…” Awalnya Faiz agak ragu melihat buku tebal tersebut. Saya meyakinkannya bahwa kisahnya sangat menarik dan tidak sulit. Sambil duduk di atas kasur dan menyandarkan badan ke dinding, Faiz mulai membacanya. Saya kembali tenggelam di depan layar komputer. Sesekali saya melirik Faiz dan dia tetap asyik membaca. Malah kakinya disilangkan. Lembar demi lembar dilahapnya. Saya kembali asyik bekerja. Beberapa saat lamanya saya terus menulis. Tiba-tiba saya melihat jam, sudah pukul sepuluh. Saya melihat Faiz. Dia sudah tergolek tidur dengan buku tebal itu di sampingnya. Saya lihat. Dia menandakan halaman 15. Saya terpaku pada satu kalimat dengan huruf capital: “TIDUR NYENYAK BAGAI BAYI DI KOTA PENUH CAHAYA. TIDURLAH DI RITZ, PARIS.” Faiz memang telah terlelap. Semoga dia mimpi indah, berkelana di selasar Louvre yang megah. Saya mengecup keningnya. Tidurlah sayang…. Teruslah membaca.. hingga jendela dunia bisa kau buka lebar dan kau pun dapat terbang dengan sayap-sayap ilmu pengetahuan, hingga kau bisa tumbuh besar, menjadi bijak, dan mampu menjalani hidup ini dengan ikhtiar yang halal, karena kau pun tumbuh dengan segala yang halal dan thoyib. Teruslah membaca anakku….
eramuslim.com
Mengingat Mati Oktober 21, 2008
Posted by h4f1zd in Introspeksi.add a comment
Mengingat Mati
Oleh : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Ar-Rahman telah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)
Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” (Ar-Rahman: 26)
Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hasungan untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat shahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)
Dalam hadits di atas ada beberapa faedah:
- Disunnahkannya setiap muslim yang sehat ataupun yang sedang sakit untuk mengingat mati dengan hati dan lisannya, serta memperbanyak mengingatnya hingga seakan-akan kematian di depan matanya. Karena dengannya akan menghalangi dan menghentikan seseorang dari berbuat maksiat serta dapat mendorong untuk beramal ketaatan.
- Mengingat mati di kala dalam kesempitan akan melapangkan hati seorang hamba. Sebaliknya, ketika dalam kesenangan hidup, ia tidak akan lupa diri dan mabuk kepayang. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan bersiap untuk “pergi.” (Bahjatun Nazhirin, 1/634)
Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah ucapan yang singkat dan ringkas, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” Namun padanya terkumpul peringatan dan sangat mengena sebagai nasihat, karena orang yang benar-benar mengingat mati akan merasa tiada berartinya kelezatan dunia yang sedang dihadapinya, sehingga menghalanginya untuk berangan-angan meraih dunia di masa mendatang. Sebaliknya, ia akan bersikap zuhud terhadap dunia. Namun bagi jiwa-jiwa yang keruh dan hati-hati yang lalai, perlu mendapatkan nasihat panjang lebar dan kata-kata yang panjang, walaupun sebenarnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).”
disertai firman Allah k:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” sudah mencukupi bagi orang yang mendengar dan melihat.
Alangkah bagusnya ucapan orang yang berkata:
اذْكُرِ الْمَوْتَ تَجِدُ رَاحَةً، فِي إِذْكَارِ الْمَوْتِ تَقْصِيْرُ اْلأَمَلِ
“Ingatlah mati niscaya kau kan peroleh kelegaan, dengan mengingat mati akan pendeklah angan-angan.”
Adalah Yazid Ar-Raqasyi rahimahullahu berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”
Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa? Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya… dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. (At-Tadzkirah, hal. 8-9)
Sungguh, hanya orang-orang cerdas cendikialah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Shahabat yang mulia, putra dari shahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’
‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9)
Bayangkanlah saat-saat sakaratul maut mendatangimu. Ayah yang penuh cinta berdiri di sisimu. Ibu yang penuh kasih juga hadir. Demikian pula anak-anakmu yang besar maupun yang kecil. Semua ada di sekitarmu. Mereka memandangimu dengan pandangan kasih sayang dan penuh kasihan. Air mata mereka tak henti mengalir membasahi wajah-wajah mereka. Hati mereka pun berselimut duka. Mereka semua berharap dan berangan-angan, andai engkau bisa tetap tinggal bersama mereka. Namun alangkah jauh dan mustahil ada seorang makhluk yang dapat menambah umurmu atau mengembalikan ruhmu. Sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan kepadamu, Dia jugalah yang mencabut kehidupan tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan. Dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”
Adalah ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bila mengingat mati ia gemetar seperti gemetarnya seekor burung. Ia mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan akan kematian, hari kiamat dan akhirat. Kemudian mereka menangis hingga seakan-akan di hadapan mereka ada jenazah. (At-Tadzkirah, hal. 9)
Tentunya tangis mereka diikuti oleh amal shalih setelahnya, berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersegera kepada kebaikan. Beda halnya dengan keadaan kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka yakin adanya surga tapi tidak mau beramal untuk meraihnya. Mereka juga yakin adanya neraka tapi mereka tidak takut. Mereka tahu bahwa mereka akan mati, tapi mereka tidak mempersiapkan bekal. Ibarat ungkapan penyair:
Aku tahu aku kan mati namun aku tak takut
Hatiku keras bak sebongkah batu
Aku mencari dunia seakan-akan hidupku kekal
Seakan lupa kematian mengintai di belakang
Padahal, ketika kematian telah datang, tak ada seorangpun yang dapat mengelak dan menundanya.
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Al-Munafiqun: 11)
Wahai betapa meruginya seseorang yang berjalan menuju alam keabadian tanpa membawa bekal. Janganlah engkau, wahai jiwa, termasuk yang tak beruntung tersebut. Perhatikanlah peringatan Rabbmu:
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدْ
“Dan hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan ayat di atas dengan menyatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1388)
Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu engkau berharap penangguhan.
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)
Karenanya, berbekallah! Persiapkan amal shalih dan jauhi kedurhakaan kepada-Nya! Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=608
Bersyukurlah Oktober 9, 2007
Posted by h4f1zd in Motivasi.add a comment
Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan.
Jika engkau memiliki semuanya, apa lagi yang hendak dicari?
karena itu memberi kesempatan kepadamu untuk belajar.
Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi,karena selama itulah engkau tumbuh menjadi dewasa.
Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki,karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri.
Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yang engkau perbuat, karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga.
Bersyukurlah ketika engkau lelah dan tak berdaya,karena berarti engkau telah membuat suatu perbedaan, Adalah mudah untuk bersyukur atas hal-hal yang baik.
Kehidupan yang bermakna adalah bagi mereka yang juga bersyukur atas kesulitan yang dihadapi.
Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.Berusahalah bersyukur atas kesulitan yang engkau hadapi, sehingga kesulitan itu akan menjadi berkah bagi dirimu.
